Dalam penantian sangat panjang
Menguras kisi-kisi hati berdarah
Akan dahaga suatu pengharapan
Hadirlah…..
Belailah kuncup hati ini
Dengan belaian lembut jemarimu
Satu diantara sejuta pesona
Yang kupunya cuma sekerlip
Anggap itu cukup….
Dan jangan cuma diam
Melati Kecil
Tawarkan mawar,
Pada sisa-sisa bukit terbakar
Dalam bungkahan dada yang asam
Terungkitlah sayangku padanya
Seperti senja terus meniti ma’na
Di sepanjang leher waktu
Oh manis,
Ranummu belum seberapa sampai
Namun pesona yang terpancar mematikan aku
Hingga kehilangan petuah
Untuk menjinakan arah angin yang buta
Lalu luruh juga cinta dari langit sukmaku
Pada pangkuan jambangan mu
Melati kecil dibatas gamang
(Jatinangor, 07 sept ‘04)
Dengan penuh gairah
Pada gelombang yang menerpa karang
Dilautan mengerikan Namun,
Ia pun bercerita tentang derita yang menimpanya
(Jatinangor, Akhir September yang paling akhir…)
Dan kuingin menyatu dengan sinar matamu
Untuk menembuis batas cakrawala nan jauh
Sebab berpaling darimu adalah malam bagiku Aku membaca prasasti di bebatuan sejarah
Yang telah berlumut digerbang tradisimu
“samudra ini takkan pernah tawar
Meski beribu sungai mengalir dari sukmamu”
Lalu kutatap keluasan langit
Demi saksi bagi sumpahku
“samudra itu kelakkan kering
Dan,
Biarlah aku penuhi dengan air mata”
(Jatinangor, 24 okt ‘04)
Sahabat
Sapaan mega masih nyata
Kuakrabkan diri dengan gambar diammu bisu
Yang tak merasakan apa-apa
Walau sekian lama kupandangSahabat,
Basahilah raut hati ini
Dengan kenangan kebersamaan
Yang kita telah tempuhEntahlah kini kalian dimana
Yang kutahu hanyalah membuka lembaran-lembaran
Yang sekian lama tercipta dan kini telah usang
(Jatinangor, 03 nov 04)
Untitled (Belum ada judul)
Kuliah…
Tugas…
Kuliah…
UTS..
Tugas Lagi…
Enak ke kebun aja nongkrong
Atau kesawah ngusir burung, khan mau panen
Eh Mak,
Kalau panen besok
Beliin aku sepatu baru yaw,
Terus baju ketat sama celana dasar
(kantin fikom, 21 sept ’04 11.00 wib)